Selasa, 26 Juni 2012

Laporan Karya Wisata ke Pulau Bali


LAPORAN KARYA WISATA
 MENGENAL OBJEK WISATA PULAU BALI
Disusun dan diajukan untuk melengkapi tugas karya wisata
 Di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Binangun
Tahun 2012/2013







DISUSUN OLEH :
                               Nama:                                            NIS:
1.      Dama PoBAa                            9999
2.      Unyil                                          9999
3.      Usro                                          9999   
4.      Meylani                                      9999  
5.      Pak Ogah                                   9999
6.      Pak Raden                                 9999               

KELAS XI IPS 3
DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAHRAGA
SMA NEGERI 1 BINANGUN
TAHUN AJARAN 2012/2013


PENGESAHAN
Karya wisata yang berjudul ‘’Mengenal Objek Wisata Pulau Bali’’ telah di uji dan di sahkan oleh Kepala Sekolah beserta Guru pembimbing SMA N I Binangun sebagai syarat untuk melengkapi tugas karya wisata di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 1 Binangun Tahun pelajaran 2011/2012. Pada:
Hari                 :
Tanggal           :
Tempat            : SMA Negeri 1 BiNANGUN

Mengetahui,                                                                                       
Kepala SMA N 1 Binangun                                                               Guru Pembimbing
                                                                                                                                                                                   
      .............................                                                                 .....................................
NIP.                                                                                            NIP.-







                                                 
PERSEMBAHAN
Penyusunan laporan yang berjudul ‘’Mengenal Objek Wisata Pulau Bali’’ penulis mempersembahkan kepada Yth :
1.      Bapak Drs. Muryanto, selaku Kepala Sekolah SMA Negeri 1 Binangun
2.      Ibu Dra.Warsiyem,selaku Guru Pembimbing
3.      Ibu Dra.Warsiyem, selaku wali kelas XI IPS 3
4.      Bapak Drs.Hernowo,Ibu Dra.Warsiyem,Ibu Laela chudus L,S.Pd selaku guru bahasa indonesia SMA Negeri 1 Binangun
5.      Bapak dan Ibu guru serta staf  Tata Usaha (TU)  di SMA N 1 Binangun
6.      Ayah dan Ibu tercinta
7.      Teman-teman seperjuangan khususnya di SMA N 1 Binangun
8.      Teman-teman  dan Adik-adik kelas  X dan XI di SMA N 1 Binangun











MOTTO

  1. Kemenangan yang seindah – indahnya dan sesukar – sukarnya yang boleh direbut oleh manusia ialah menundukan diri sendiri. (Ibu Kartini )
  2. Pendidikan merupakan perlengkapan paling baik untuk hari tua. (Aristoteles)
  3. Hanya kebodohan meremehkan pendidikan. ( P.Syrus )
  4. Ketergesaan dalam setiap usaha membawa kegagalan. (Herodotus )
  5. Dia yang tahu, tidak bicara. Dia yang bicara, tidak Tau. ( Loo Tse )
  6. Kegagalan hanya terjadi bila kita menyerah ( Lessing )
  7. Kesopanan adalah pengaman yang baik bagi keburukan lainnya. (Cherterfield)
  8. Berusahalah jangan sampai terlengah walau sedetik saja, karena atas kelengahan kita tak akan bisa dikembalikan seperti semula.
  9. Manusia tak selamanya benar dan tak selamanya salah, kecuali ia yang selalu mengoreksi diri dan membenarkan kebenaran orang lain atas kekeliruan diri sendiri.
  10. Hadir terlambat memang lebih baik dari pada tidak hadir sama sekali tetapi bila berkali-kali adalah suatu kecerobohan.





KATA PENGANTAR

             Puja dan puji syukur kami panjatkan atas kehadirat Alloh Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan inayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan laporan karya wisata kami yang berjudul ‘’Mengenal Objek Wisata Pulau Bali”,guna melengkapi tugas studitur di SMA N 1 Binangun Tahun Pelajaran 2011/2012.
            Kami menyadari bahwa keberhasilan penyusunan laporan ini tidak lepas dari bantuan,saran dan  bimbingan dari berbagai pihak. Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada:
1.      Kepala Sekolah Bapak ...............
2.      Wali kelas ....................... yang juga sekaligus sebagai guru pembimbing kami dalam penulisan karya tulis kami dan sebagai guru mata pelajaran bahasa Indonesia.
3.      Bapak D................,Ibu ..............,Ibu ..................... selaku guru bahasa indonesia SMA Negeri 1 Binangun
4.      Serta semua pihak yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini sehingga karya tulis ini dapat kami selesaikan dengan baik.




            Dalam penyusunan karya wisata ini penyusun masih banyak kekurangan bahkan msih jauh dari sempurna. Untuk itu, kritik dan saran dari semua pihak sangat kami harapkan demi kesempurnaan penyusunan karya wisata ini. Semoga karya wisata ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penyusun pada khususnya
                                                                                                                  Binangun,
                                                                                                                 Tim Penyusun
 

Daftar Isi

Pengesahan ........................................................................................................................  i
Persembahan ......................................................................................................................  ii
Motto .................................................................................................................................  iii
Kata Pengantar ..................................................................................................................  iv
Daftar Isi ............................................................................................................................  v
BAB I    PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang ....................................................................................................  1
B.     Rumusan Masalah ...............................................................................................  2
C.     Tujuan Penulisan .................................................................................................  2
D.    Manfaat Penelitian ..............................................................................................  2
E.     Sistematika Penulisan.......................................................................................... 3
BAB II   KAJIAN PUSTAKA
A.    Asal Mula Pulau Bali ..........................................................................................  4
B.     Sistem Kebudayaan Di Pulau Bali ......................................................................  5
BAB III  PEMBAHASAN
A.    Asal Usul Tanah Lot ........................................................................................... 17
B.     Wisata Yang Ada Di Tanjung Benoa ................................................................. 19
C.     Wisata Belanjar Yang Ada Di Bali ..................................................................... 22
a.       Pasar Sokawati .............................................................................................. 22
b.      Hawaii ........................................................................................................... 24
c.       Jogger ............................................................................................................ 24
D.    Asal Usul Sangeh ................................................................................................ 27
E.     Asal Usul Pantai Kuta ........................................................................................ 30
F.      Apa Pengertian Tari Barong ............................................................................... 33
BAB IV  PENUTUP .......................................................................................................... 34
DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................................... 35
LAMPIRAN ...................................................................................................................... 36




BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Dalam dunia pendidikan di setiap sekolah pasti akan mengadakan kegiatan study tour.tidak terkecuali di sekolah SMA N 1 BINANGUN yang kemarin baru saja mengadakan study tour ke dua tempat dan salah satunya adalah pulau bali.sedangkan kegiatan study tour ini hanya di laksanakan pada saat kelas XI dan kegiatan ini di laksanakan setelah ulangan semester I.
            Bali merupakan salah satu pulau yang terkenal di indonesia,penampilan pulau yang indah dan menarik membuat pulau tersebut dikunjungi oleh banyak wisatawan baik wisatawan dalam negeri maupun wisatawan asing.pulau yang sering di sebut pulau dewata ini ,memiliki banyak sekali objek wisata yang terkenal baik dari wisata alamnya yang menakjubkan,bagi yang hobi berbelanja juga dimanjakan dengan berbagai fasilitas pusat perbelanjaan yang lengkap dan murah.
            Bali memiliki budaya yang masih sangat terjaga kemurniannya,masyarakat di sana masih mempertahankan kebudayaan asli mereka yang sudah ada sejak dahulu,mayoritas masyarakat di bali menganut agama Hindu.
            Karena keistimewaan pulau bali ,kami mengambil tema tentang macam-macam wisata di pulau bali.karya tulis ini bertujuan untuk memberikan berbagai pengetahuan tentang pulau bali untuk para pembaca.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa asal usul tanah lot?
2.      Wisata apa saja yang ada di tanjung benoa?
3.      Wisata belanja apa saja yang ada di bali?
4.      Apa asal usul pantai kuta?
5.      Apa pengertian tari barong?
C.    Tujuan penulisan
1.      Untuk mengetahui asal usul tanah lot
2.      Untuk mengetahui berbagai hal yang ada di tanjung benoa
3.      Untuk mengetahui Wisata belanja apa saja yang ada di bali
4.      Untuk mengetahui Apa asal usul pantai kuta
5.      Untuk mengetahui pengertian tari barong
D. Manfaat Penelitian
1.      Bagi para siswa karya wisata ini dapat menjadi acuan dan pembelajaran untuk mempermudah pembuatan karya tulis dimasa mendatang.
2.      Bagi pembaca karya wisata ini dapat memberikan informasi tentang berbagai obyek wisata dan kebudayaan dipulau bali.
3.      Bagi penulis karya wisata ini dapat menjadi pembelajaran untuk membuat karya tulis dimasa yang akan mendatang.
4.      Bagi penulis karya wisata ini adalah sebagai syarat kenaikan kelas
5.      Agar karya tulis ini bisa menjadikan bahan pengetahuan tentang pulau bali kepada para pembaca.
E. Sistematika Penulisan
Dalam pembuatan sebuah karya tulis perlu memperhatikan bagian-bagian yang merupakan kelengkapan isi dari laporan. Yaitu daftar yang terdiri dari beberapa sub bab.
BAB I
Yaitu pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah,tujuan penelitian,manfaat penelitian,sistematika penulisan.
BAB II
Yaitu kajian pustaka yang memuat pembahasan berdasarkan buku-buku,hasil penelitian dan sumber pustaka lainya.
BAB III
Yaitu pembahasan yang memuat pembahasan berdasarkan data/info untuk menjawab rumusan masalah yang di ajukan.
BAB IV
Yaitu penutup yang meliputi kesimpulan dan saran.





BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A.    Asal Mula Pulau Bali
Bali merupakan salah satu tempat tujuan wisata yang di favoritkan. Di Bali, selain warga lokal, banyak juga warga asing yang sering menghabiskan waktu liburan. Tidak mengherankan, Bali memberikan nuansa alami dengan pemandangan pantai nan indah. Tapi tahuka Anda dari mana asal nama Bali yang di kenal dengan sebutan Pulau Dewata ini? Berikut kisahnya. Dimulai dari Kedatangan seorang Maha Rsi Markandeya pada abad ke-7. Beliau adalah seorang pertapa sakti di Gunung Raung, Jawa Timur. Kedatangannya memberikan pengaruh besar pada kehidupan penduduk Bali.
Suatu hari beliau mendapat bisikan gaib dari Tuhan untuk bertempat tinggal di sebelah timur Pulau Dawa (pulau Jawa sekarang). Dawa artinya panjang, karena memang dulunya pulau Jawa dan Bali menjadi satu daratan.Dengan diikuti oleh 800 pengikutnya, beliau mulai bergerak ke arah timur yang masih berupa hutan belantara. Perjalanan beliau hanya sampai di daerah Jembrana (sekarang Bali Barat) karena pengikut beliau tewas dimakan harimau dan ular-ular besar penghuni hutan. Akhirnya beliau memutuskan kembali ke Gunung Raung untuk bersemedi dan mencari pengikut baru.Dengan semangat dan tekad yang kuat, perjalanan beliau yang kedua sukses mencapai tujuan di kaki Gunung Agung (Bali Timur) yang sekarang disebut Besakih.Sebelum pengikutnya merabas hutan, beliau melakukan ritual menanam Panca Dhatu berupa lima jenis logam yang dipercayai mampu menolak bahaya. Perabasan hutan sukses, tanah-tanah yang ada beliau bagi-bagi kepada pengikutnya untuk dijadikan sawah, tegalan, rumah, dan tempat suci yang dinamai Wasukih (Besakih).Di sinilah beliau mengajarkan agama kepada pengiringnya yang menyebut Tuhan dengan nama Sanghyang Widhi melalui penyembahan Surya (surya sewana) tiga kali dalam sehari, menggunakan alat-alat bebali yaitu sesajen yang terdiri atas tiga unsur benda: air, api, dan bunga harum.
Ajaran agamanya disebut agama Bali. Lambat laun para pengikutnya mulai menyebar ke daerah sekitar, sehingga daerah ini dinamai daerah Bali, daerah yang segala sesuatunya mempergunakan bebali (sesajen).
Dari ajaran agama inilah nama Bali berasal, bebali (sesajen). Ini diperkuat lagi didalam kitab Ramayana yg disusun 1200SM: “Ada sebuah tempat di timur Dawa Dwipa yang bernama Vali Dwipa, di mana di sana Tuhan diberikan kesenangan oleh penduduknya berupa bebali (sesajen).”Vali Dwipa adalah sebutan untuk Pulau Vali yang kemudian berubah fonem menjadi Pulau Bali.
Kita juga tahu kebiasaan sehari-hari masyarakat di pulau Bali yang sering melaksanakan upacara adat atau ke agamaan menggunakan bebali (sesajen). Jadi, ada keterkaitan yang erat antara kebiasaan tersebut dengan asal muasal nama Bali.
B.     Sistem Kebudayaan di Pulau Bali
Keunikan Bali yang lain bisa dilihat lewat bagaimana manusia Bali melakukan pembinaan kekerabatan secara lahir dan batin. Manusia Bali begitu taat untuk tetap ingat dengan asal muasal darimana dirinya berasal. Hal inilah kemudian melahirkan berbagai golongan di masyarakatnya yang kini dikenal dengan wangsa atau soroh. Begitu banyak soroh yang berkembang di Bali dan mereka memiliki tempat pemujaan keluarga secara tersendiri.
Tatanan masyarakat berdasarkan soroh ini begitu kuat menyelimuti aktivitas kehidupan manusia Bali. Mereka tetap mempertahankan untuk melestarikan silsilah yang mereka miliki. Mereka dengan seksama dan teliti tetap menyimpan berbagai prasasti yang didalamnya berisi bagaimana silsilah sebuah keluarga Bali.
Beberapa soroh yang selama ini dikenal misalnya Warga Pande, Sangging, Bhujangga Wesnawa, Pasek, Dalem Tarukan, Tegeh Kori, Pulasari, Arya, Brahmana Wangsa, Bali Aga dan lainnya. Semuanya memiliki sejarah turun-temurun yang berbeda. Meski begitu, akhirnya mereka bertemu dalam siklus keturunan yang disebut Hyang Pasupati. Begitu unik dan menarik memahami kehidupan manusia Bali dalam kaitan mempertahankan garis leluhurnya tersebut. Sebagian kehidupan ritual mereka juga diabdikan untuk kepentingan pemujaan terhadap leluhur mereka.

Identifikasi Orang Bali
Suku bangsa Bali merupakan kelompok manusia yang terikat oleh kesadaran akan kesatuan budayanya, kesadaran itu diperkuat oleh adanya bahasa yang sama. Walaupun ada kesadaran tersebut, namun kebudayaan Bali mewujudkan banyak variasi serta perbedaan setempat. Agama Hindhu yang telah lama terintegrasikan ke dalam masyarakat Bali, dirasakan juga sebagai unsur yang memperkuat adanya kesadaran kesatuan tersebut.
Perbedaan pengaruh dari kebudayaan Jawa Hindhu di berbagai daerah di Bali dalam jaman Majapahit dulu, menyebabkan ada dua bentuk masyarakat Bali, yaitu masyarakat Bali - Aga dan masyarakat Bali Majapahit.
Masyarakat Bali Aga kurang sekali mendapat pengaruh dari kebudayaan Jawa - Hindhu dari Majapahit dan mempunyai struktur tersendiri. Orang Bali Aga pada umumnya mendiami desa-desa di daerah pegunungan seperti Sembiran, Cempaga Sidatapa, pedawa, Tiga was, di Kabupaten Buleleng dan desa tenganan Pegringsingan di Kabupaten Karangasem. Orang Bali Majapahit yang pada umumnya diam didaerah-daerah dataran merupakan bagian yang paling besar dari penduduk Bali.
Pulau Bali yang luasnya 5808,8 Km2 dibelah dua oleh suatu pegunungan yang membujur dari barat ke timur, sehingga membentuk dataran yang agak sempit. di sebelah utara., dan dataran yang lebih besar disebelah selatan. Pegunungan tersebut yang sebagian besar masih tertutup oleh hutan rimba, mempunyai arti yang penting dalam pandangan hidup dan kepercayaan penduduk. di wilayah pegunungan itulah terletak Kuil-kuil (pura) yang dianggap suci oleh orang Bali, seperti Pura Pulaki, Pura Batukaru, dan yang terutama sekali Pura Besakih yang terletak di kaki Gunung Agung.
Sedangkan arah membujur dari gunung tersebut telah menyebabkan penunjukan arah yang berbeda untuk orang Bali utara dan Orang Bali selatan. Dalam Bahasa Bali, kaja berarti ke gunung, dan kelod berarti ke laut. Untuk orang Bali Utara kaja berarti selatan, sedangkan untuk orang Bali selatan kaja berarti utara. Sebaliknya kelod untuk orang Bali utara berarti utara, dan untuk orang bali selatan berarti selatan. Perbedaan ini tidak saja tampak dalam penunjukan arah dalam bahasa Bali, tapi juga dalam aspek kesenian dan juga sedikit aspek bahasa. Konsep kaja kelod itu nampak juga dalam kehidupan sehari-hari, dalam upacara agama, letak susunan bangunan-bangunan rumah kuil dan sebagainya.
Bahasa Bali termasuk keluarga bahasa Indonesia. Dilihat dari sudut perbendaharaan kata dan strukturnya, maka bahsa Bali tak jauh berbeda dari bahsa Indonesia lainnya. Peninggalan prasasti zaman kuno menunjukkan adanya adanya suatu bahasa Bali kuno yang berbeda dari bahasa Bali sekarang. Bahasa Bali kuno tersebut disamping banyak mengandung bahsa Sansekrta, pada masa kemudiannya juga terpengaruh oleh bahasa Jawa Kuno dari jaman Majapahit, ialah jaman waktu pengaruh Jawa besar sekali kepada kebudayaan Bali. Bahasa Bali mengenal juga apa yang disebut "perbendaharaan kata-kata hormat", walaupun tidak sebanyak perbendaharaan dalam bahasa Jawa. Bahasa hormat (bahasa halus) dipakai kalau berbicara dengan orang-orang tua atau tinggi. Di Bali juga berkembang kesusasteraan lisan dan tertulis baik dalam bentuik puisi maupun prosa. Disamping itu sampai saat ini di bali didapati juga sejumlah hasil kesusasteraan Jawa Kuno (kawi) dalam bentuk prosa maupun puisi yang dibawa ke Bali tatkala Bali di bawah kekuasaan kerajaan Majapahit.


Sistem Kekerabatan Orang Bali
Perkawinan merupakan suatu saat yang amat penting dalam kehidupan orang Bali, karena pada saat itulah ia dapat dianggap sebagai warga penuh dari masyarakat, dan baru sesudah itu ia memperoleh hak-hak dan kewajiban seorang warga komuniti dan warga kelompok kerabat.
Menurut anggapan adat lama yang amat dipengaruhi oleh sistem klen-klen (dadia) dan sistem kasta (wangsa), maka perkawinan itu sedapat mungkin dilakukan diantara warga se-klen, atau setidak-tidaknya antara orang yang dianggap sederajat dalam kasta. Demikian, perkawinan adat di Bali itu bersifat endogami klen, sedangkan perkawinan yang dicita-citakan oleh orang Bali yang masih Kolot adalah perkawinan antara anak-anak dari dua orang saudara laki-laki. Keadaan ini memang menyimpang dari lain-lain masyarakat yang berklen, yang pada umumnya bersifat exogam.
Orang-orang se-klen di Bali itu, adalah orang orang yang setingkat kedudukannya dalam adat dan agama, dan demikian juga dalam kasta, sehingga dengan berusaha untuk kawin dalam batas klennya, terjagalah kemungkinan akan ketegangan-keteganagan dan noda-noda keluarga yang akan terjadi akibat perkawinan antar kasta yang berbeda derajatnya. Dalam hal ini terutama harus dijaga agar anak wanita dari kasta yang tinggi jangan sampai kawin dengan pria yang lebih rendah derajat kastanya, karena perkawinan itu akan membawa malu kepada keluarga, serta menjatuhkan gengsi dari seluruh kasta dari anak wanita tersebut.

Dahulu, apabila ada perkawinan semacam itu, maka wanitannya akan dinyatakan keluar dari dadianya, dan secara fisik suami-istri akan dihukum buang (maselong) untuk beberapa lama, ketempat yang jauh dari tempat asalnya. Semenjak tahun 1951, hukuman sermacam itu tidak pernah dijalankan lagi, dan pada saat ini hukuman campuran semacam itu relatif lebih banyak dilaksanakan. Bentuk perkawinan lain yang dianggap pantang adalah perkawinan bertukar antara saudara perempuan suami dengan saudara laki-laki istri (makedengan ngad), karena perkawinan yang demikian itu dianggap dapat mendatangkan bencana (panes). Pada umumnya, seorang pemuda Bali memperoleh seorang istri dengan dua cara, yaitu dengan meminang (memadik, ngidih) kepada keluarga gadis, atau denganacara melarikan seorang gadis (mrangkat,ngrorod). Kedua cara diatas berdasarkan adat.
Sesudah pernikahan, suami-istri yang baru biasanya menetap secara virilokal dikomplek perumahan dari orang tua suami, walauntidak sedikit suami istri yang menetap secara neolokal dengan mencari atau membangun rumah baru. Sebaliknya ada pula suami istri baru yang menetap secara uxorilokal dikomplek perumahan dari keluarga istri (nyeburin). Kalau suami istri menetap secara virilokal, maka anak-anak keturunan mereka selanjutnya akan diperhitungkan secara patrilineal (purusa), dan menjadi warga dari dadia si suami dan mewarisi harta pusaka dari klen tersebut. Sebaliknya, keturunan dari suami istri yang menetap secara uxorilokal akan diperhitungkan secara matrilineal menjadi warga dadia si istri, dan mewarisi harta pusaka dari klen itu. Dalam hal ini kedudukan si istri adalah sebagai sentana(penerus keturunan).

Suatu rumah tangga di Bali biasanya terdiri dari suatu keluarga batih yang bersifat monogami, sering ditambah dengan anak laki-laki yang sudah kawin bersama keluarga batih mereka masing-masing dan dengan orang lain yang menumpang, baik orang yang masih kerabat maupun orang yang bukan kerabat. Beberapa waktu kemudian terdapat anak laki-laki yang sudah maju dalam masyarakat sehingga ia merasa mampu untuk berdiri sendiri, memisahkan diri dari orang tua dan mendirikajn rumah tangga sendiri yang baru. Salah satu anak laki-laki biasanya tetap tinggal di komplek perumahan orang tua (ngerob), untuk nanti dapat membantu orang tua mereka kalau sudah tidak berdaya lagi dan untuk selanjutnya menggantikan dan melanjutkan rumah tangga orang tua.
Tiap-tiap keluarga batih maupun keluarga luas, dalam sebuah desa di Bali harus memelihara hubungan dengan kelompok kerabatnya yang lebih luas yaitu klen (tunggal dadia). Strutur tunggal dadia ini berbeda-beda di berbagai tempat di Bali. Di desa-desa pegunungan, orang-orang dari tunggal dadia yang telah memencar karena hidup neolokal, tidak usah lagi mendirikan tempat pemujaan leluhur di masing-masing tempat kediamannya. didesa-desa tanah datar, orang-orang dari tunggal dadia yang hidup neolokal wajib mendirikan mendirikan tempat pemujaan di masing-nasing kediamannya, yang disebut kemulan taksu.
Disamping itu, keluarga batih yang hidup neolokal masih mempunyai kewajiban-kewajiban terhadap kuil asal (dadia atau sanggah) di rumah orang tua mereka.Suatu pura ditingkat dadia merayakan upacara-upacara sekitar lingkaran hidup dari semua warganya, dan dengan demikian pura/kuil tersebut mempersatukan dan mengintensifkan rasa solidaritet anggota-anggota dari suatu klen kecil.
Di samping itu ada lagi kelompok kerabat yang lebih besar yang melengkapi beberapa kerabat tunggal dadia (sanggah) yang memuja kuil leluhur yang sama disebut kuil (pura) paibon atau panti. Dalam prakteknya, suatu tempat pemujaan di tingkat paibon juga hanya mempersatukan suatu lingkaran terbatas dari kaum kerabat yang masih dikenal hubungannya saja. Klen-klen besar sering juga mempunyai suatu sejarah asal-usul yang ditulis dalam bentuk babad dan yang disimpan sebagai pusaka oleh salah satu dari keluarga-keluarga yang merasa dirinya senior, ialah keturunan langsung dan salah satu cabang yang tua dalam klen.

Sistem Kemasyarakatan Orang Bali

Banjar
Merupakanbentuk kesatuan-kesatuan sosiail yang didasarkan atas kesatuan wilayah. Kesatuan sosial itu diperkuat oleh kesatuan adat dan upacara-upacara keagaman yang keramat. Didaerah pegunungan, sifatkeanggotaan banjar hanya terbatas pada orang yang lahir di wilayah banjar tersebut. Sedangkan didaerah datar, sifat keanggotaannya tidak tertutup dan terbatas kepada orang-orang asli yang lahir di banjar itu. Orang dari wilayah lain atau lahir di wilayah lain dan kebetulan menetap di banjar bersangkutan dipersilakan untuk menjadi anggota(krama banjar) kalau yang bersangkutan menghendaki.
Pusat dari bale banjar adalah bale banjar, dimana warga banjar bertemu pada hari-hari yang tetap. Banjar dikepalai oleh seorang kepala yang disebut kelian banjar. Ia dipilih dengan masa jabatab tertentu oleh warga banjar. Tugasnya tidak hanya menyangkut segala urusan dalam lapangan kehidupan sosial dari banjar sebagai suatu komuniti, tapi juga lapangan kehidupan keagamaan. Kecuali itu ia juga harus memecahkan masalah yang menyangkut adat. Kadang kelian banjar juga mengurus hal-hal yang sifatnya berkaitan dengan administrasi pemerintahan.

Subak
Subak di Bali seolah-olah lepas dari dari Banjar dan mempunyai kepala sendiri. Orang yang menjadi warga subak tidak semuanya sama dengan orang yang menjadi anggota banjar. Warga subak adalah pemilik atau para penggarap sawah yang yang menerima air irigasinya dari dari bendungan-bendungan yang diurus oleh suatu subak. Sudah tentu tidak semua warga subak tadi hidup dalam suatu banjar. Sebaliknya ada seorang warga banjar yang mempunyai banyak sawah yang terpencar dan mendapat air irigasi dari bendungan yang diurus oleh beberapa subak. Dengan demikian warga banjar tersebtu akan menggabungkan diri dengan semua subak dimana ia mempunya sebidang sawah.
Dalam kehidupan kemasyarakatan desa di Bali ada  organisasi-organisasi yang bergerak dalam lapangan kehidupan yang khusus, ialah sekaha. organisasi ini bersifat turun-temurun, tapi ada pula yang bersifat sementara. Ada sekaha yang fungsinya adalah menyelenggarakan hal-hal atau upacara-upacara yang berkenan dengan desa, misalnya sekaha baris (perkumpulan tari baris), sekaha teruna-teruni. Sekaha tersebut sifatnya permanen, tapi ada juga sekaha yang sifatnya sementara, yaitu sekaha yang didirikan berdasarkan atas suatu kebutuhan tertentu, misalnya sekaha memula (perkumpulan menanam), sekaha manyi (perkumpulan menuai), sekaha gong (perkumpulan gamelan) dan lain-lain. sekaha-sekaha di atas biasanya merupakan perkumpulan yang terlepas dari organisasi banjar maupun desa.


Gotong - Royong
Dalam kehidupan berkomuniti dalam masyarakat Bali dikenal sistem gotong royong (nguopin) yang meliputi lapangan-lapangan aktivitet di sawah (seperti menenem, menyiangi, panen dan sebagainya), sekitar rumah tangga (memperbaiki atap rumah, dinding rumah, menggali sumur dan sebagainaya), dalam perayaan-perayaan atau upacara-upacara yang diadakan oleh suatu keluarga, atau dalam peristiwa kecelakaan dan kematian. nguopin antara individu biasanya dilandasi oleh pengertian bahwa bantuan tenaga yang diberikan wajib dibalas dengan bantuan tenaga juga. kecuali nguopin masih ada acara gotong royong antara sekaha dengan sekaha. Cara serupa ini disebut ngedeng (menarik). Misalnya suatu perkumpulan gamelan ditarik untuk ikut serta dalam menyelenggarakan suatu tarian dalam rangka suatu upacara odalan. bentuk yang terakhir adalah kerja bhakti (ngayah) untuk keprluan agama,masyarakat maupun pemerintah.
Kesatuan-kesatuan sosial di atas, biasanya mempunyai pemimpin dan mempunyai kitab-kitab peraturan tertulis yang disebut awig-awig atau sima. Pemimpin biasanya dipilih oleh warganya. Klen-klen juga mempunyai tokoh penghubung yang bertugas memelihara hubungan antara warga-warga klen, menjadi penasehat bagi para warga mengenai seluk beluk adat dan peristiwa-peristiwa yang bersangkaut paut dengan klen. Tokoh klen serupa itu di sebut moncol. Klen tersebut tidak mempunyai peraturan tertulis, akan tetapi mempunya silsilah/babad. Ditingkat desa ada kesatuan-kesatuan administratif yang disebut perbekelan. Suatu perbekelan yang sebenarnya merupakan warisan dari pemerintah Belanda, diletakkan diatas kesatuan-kesatuan adat yang asli di Bali, seperti desa adat dan banjar. Maka terdapatlah gabungan-gabungan dari banjar dan desa ke dalam suatu perbekelan yang dipimpin oleh perbekel atau bendesa yang secara administratif bertanggung jawab terhadap atasannya yaitu camat, dan seterusnya camat bertanggung jawab kepada bupati.


















BAB III
PEMBAHASAN

A.    Asal usul Tanah Lot
       Menurut legenda masyarakat Bali, Tanah Lot berasal dari segumpal tanah yang dibawa oleh Putra Patih Gajahmada yang terjatuh di tepi pantai. Diceritakan bahwa Patih Gajahmada dari Kerajaan Majapahit memerintahkan putranya untuk mengembara. Sang Patih memberinya bekal sebuah tempayan yang berisi tanah. Sang Patih berpesan agar putranya menaburkan tanah dalam tempayan tersebut sesampainya ia di sebuah daratan, niscaya tempat tersebut akan menjadi kekuasaannya. Akan tetapi, sebelum sampai ke daratan tempayan tersebut terjatuh dan tanahnya tumpah di tepi pantai. Tanah itulah yang kemudian menjadi Tanah Lot yang artinya tanah di tengah laut.
Tanah Lot berdasarkan cerita yang tertulis dalam Babad Dwijendra Tatwa dibangun oleh pengikut-pengikut Danghyang Nirartha. Danghyang Nirartha adalah seorang brahmana berasal dari Blambangan Jawa Timur yang melakukan perjalanan untuk menyebarkan ajaran Hindu di sebuah pulau yang saat ini kita kenal dengan nama Bali. Perjalanan Danghyang Nirartha akhirnya sampai di sebuah pantai di bagian selatan Pulau Bali. Di tempat ini Danghyang Nirartha menemukan sebuah pulau kecil yang terdiri dari tanah parangan (tanah keras). Di pulau kecil inilah Danghyang Nirartha beristirahat dan melakukan persembahyangan memuja penguasa laut. Danghyang Nirartha merasakan keindahan yang luar biasa di tempat itu sehingga beliau menolak tawaran beberapa nelayan untuk singgah di rumahnya dan tetap bermalam di pulau kecil ini. Di tempat ini Danghyang Nirartha juga memberikan ajaran-ajaran Hindu kepada penduduk setempat dan memberi nasihat agar di pulau kecil tersebut dibangun sebuah parhyangan (pura atau kahyangan), karena menurut getaran batin beliau tempat itu baik untuk memuja Sang Hyang Widi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) untuk memohon kemakmuran dan kesejahteraan. Akhirnya sepeninggal Danghyang Nirartha, di tempat ini dibangun  sebuah tempat pemujaan yang diberi nama Pura Pakendungan atau lebih dikenal dengan nama Pura Tanah Lot. Beberapa meter dari Pura Tanah Lot terdapat tebing-tebing yang di dalamnya hidup ular-ular laut. Ular-ular tersebut konon merupakan penjelmaan selendang Danghyang Nirartha yang bertugas menjaga Pura Tanah Lot. Ular-ular ini dijaga oleh seorang pawang karena ular laut yang berwarna hitam dan berekor pipih seperti ikan ini kabarnya sangat beracun bahkan racunnya lebih dasyat dari ular kobra.
B.     Wisata yang ada di Tanjung Benoa
        Tanjung Benoa berada di ujung tenggara pulau Bali dan bertetanggaan dengan kawasan Nusa Dua. Dapat ditempuh dalam 35 menit dari Kuta, 40 menit dari Sanur dan 20 menit dari Airport Ngurah Rai.
Tanjung benoa dikenal sebagai pusat wisata air mulai dari parasailing, banana boat, Jet Ski, Rolling Donut, Flying Fish, Snorkeling, Scuba Diving, Glass Bottom Boat + Turtle island dan olahraga air lainnya dapat dinikmati di sini. Pantai di sini tidak berombak dan tenang sehingga sangat aman untuk liburan keluarga bersama putra-putri anda.

Permainan yang bisa dinikmati diantaranya :
* PARASAILING yaitu permainan dimana anda akan memakai payung parasut dan ditarik oleh speed boat mengeliling pantai Tanjung Benoa. Jadi persis seperti terjun payung beneran. Waktu permainan ini satu putaran kira2 4 menit di udara. Ketinggian tali yg menghubungkan antara parasut dengan speed boat kurang lebih 80 meter. Jadi lumayan tinggi terbangnya.

* JETSKI, yaitu permainan menggunakan kendaraan di pantai seperti sepeda motor. Jetski disini tidak bisa anda kendarai sendiri, harus didampingi oleh instruktur, mengingat di pantai TB banyak terdapat perahu2 dan aktivitas watersport lainnya, sehingga tabrakan bisa dihindari. Jangan khawatir, si instruktur ini hanya akan mengendarai dari pinggir pantai menuju ke tengah laut, nah sampai disana giliran anda yg nyetir, si instruktur boncengan. Waktu permainan ini adalah 15 menit. Kalau anda mau exciting mengendarainya, cobalah terjang ombak yg ada..maka anda akan merasakan sensasi nikmatnya berkendara jetski ini.

* BANANA BOAT, menggunakan perahu karet tunggal, anda akan ditarik oleh speed boat berkeliling pantai dalam waktu 15 menit. Kapasitas muatan banana boat ini adalah max 4 orang plus 1 orang instruktur sbg pendamping. Anda bisa minta diceburin ke air selama boat berjalan, atau kalau tidak mau basah..minta yg normal2 saja. Kurang seru sih kalau main banana boat tanpa nyebur.

* FLYING FISH, ini permainan paling anyar di Bali. 3 buah banana boat dijadikan satu dengan tambahan rubber boat melintang di depannya dan ada semacam sayap disamping kanan kiri. Flying Fish dimainkan max oleh 3 orang, yaitu 2 orang penumpang disisi kanan kiri dan 1 orang instruktur ditengah2. Posisi anda bisa beridir seperti mengendarai sepeda motor atau tidur terlentang. Flying Fish ini akan ditarik oleh speed boat berkecapatan tinggi dgn jalur melawan arah angin. Dengan demikian, flying fish akan terbang diatas air kira2 2 meter atau lebih bergantung pada kecepatan angin. Persis seperti layangan. Bagi yg suka tantangan, jangan melewatkan utk mencoba permainan ini.


* SNORKELING, yaitu berenang sambil melihat pemandangan bawah laut. Syarat utamanya anda harus bisa berenang. Dengan menggunakan masker dan fin, anda akan melihat ikan2 hias serta terumbu karang yg ada sambil berenang.

* SCUBA DIVING, yaitu menyelam. Daripada snorkeling, lebih bagus diving sekalian. Anda akan diberikan perlengkapan diving komplit, mulai dari pakaian, tangki oksigen dll. Diving tidak harus bisa renang, lebih baik kalo anda tdk bisa renang, karena lebih gampang. Satu wisatawan akan ditemani oleh satu instruktur di bawah air, jadi tidak perlu khawatir. Sebelumnya, anda akan di-brief dulu ttg cara2 menyelam yg benar. Kedalaman bagi pemula berkisar antar 3 meter - 7 meter didalam air selama 40 menit. Sambil membawa roti utk makanan ikan, anda akan melihat indahnya pemandangan bawah laut yg dipenuhi oleh terumbu karang yg cantik dan ikan hias warni-warni.

* GLASS BOTTOM BOAT & PULAU PENYU, adalah wisata yg paling cocok jika anda mengajak anak anda yg masih kecil. Dengan menaiki perahu yg dibawahnya ada kaca bening, anda akan diajak berlayar melihat akuarium bawah laut yg terdapat di pantai Tanjung Benoa. Sambil melemparkan roti dari perahu, ikan2 akan naik dan mengejar makanan tsb. Jumlahnya ratusan ekor dan berwarna warni. Demikian juga dgn pemandangan karang laut yg elok. Setelah puas melihat hal tsb, perahu akan meluncur menuju Pulau Penyu utk melihat lokasi penangkaran penyu, binatang yg cukup langka keberadaannya. Disini anda akan melihat telur penyu yg dikeram, kemudian penyu yg masih kecil2, penyu remaja sampai dengan penyu dewasa yg sudah siap menjadi induk. Jenis penyu tidak hanya satu saja, tapi ada beberapa jenis. Disamping itu, dilokasi ini juga terdapat binatang lain spt burung, kelelawar, ular, dll yg sangat jinak, sehingga bisa anda pegang utk di foto. Permainan ini berlangsung sekitar 1 jam.
Kegiatan biasanya dimulai di pagi hari sekitar jam 8 sampai dengan jam 12-an, karena setelah itu air akan surut dan Anda tidak bisa menikmati permainan-permainan lagi karena boatnya tidak bisa digunakan.
Dengan instruktur-instruktur yang handal, akan memberikan jaminan keselamatan dan kenyamanan Anda saat menikmati permainan di sini.

C.    Wisata Belanja Yang Ada di Bali   

a.      PASAR SOKAWATI
Pasar Sukawati merupakan sebuah pasar yang sangat terkenal di Bali. Karena pasar ini menjual pakaian-pakaian santai dengan harga yang sangat miring.
Pasar Sukawati menyediakan pakaian-pakaian seperti Batik khas bali, selain batik khas bali juga tersedia berbagai macam baju-baju serta celana pendek harga miring yang akan cocok dipakai di pantai. Dan juga ada beberapa kaos yang bercorak Bali. Semua barang-barang disini bisa ditawar, dan sebagai tipsnya harganya bisa sepertiga dari harga pertama yang ditawarkan oleh penjualnya.
Dan untuk melancarkan tawarannya, sebaiknya datang ke pasar ini ketika pagi sekitar jam 8-10 karena para penjualnya baru selesai sembahyang dan mereka menggap jika jualan mereka berhasil di pagi tersebut akan mendatangkan kelarisan untuk jam-jam selanjutnya.
Selain pakaian-pakaian murah, di pasar ini juga terkenal dengan barang-barang seni seperti lukisan dari berbagai aliran lukisan. Juga ada berbagai model tas.
Dan sebelum menuju ke pasar Sukawati, sebaiknya mengunjungi Pusat Kerajina Perak Celuk. Di kerajinan perak celuk ini kita bisa membeli berbagai macam kerajinan yang terbuat dari perak. Dan kelebihan lainnya, disini kita juga bisa melihat secara langsung bagaiman para perajin membuat kerajinan perak tersebut.





b.      HAWWAI
Toko Oleh-oleh Hawaii Bali hadir di jalan By Pass Ngurah Rai Kuta, dulu bekas kantor toko Furniture Courts. Parkir dan tempat lumayan besar, bus-bus besar bisa parkir.
 








c.       JOGER
Sang pendiri, Joseph Theodorus Wuliandi, membangun usahanya pertama kali di tahun 1980 dengan modal 500 ribu. Nama Joger sendiri adalah sebuah bentuk penghargaan untuk temannya yang bernama Gerhard Seeger, teman sekolahnya ketika di Jerman yang telah berjasa memberi hadiah di pernikahannya, yang sekaligus menjadi modal utama usahanya, sebesar 20 ribu dollar. Joseph dan Gerhard, itulah kepanjangan dari Joger, dan sekarang Joseph sering mendapat panggilan Mr. Joger.
Joseph juga tak menepis bahwa keusilan dan kata-kata yang kadang nyeleneh dari Joger sempat membuat beberapa pihak tersinggung. Namun Joseph hanya menanggapinya dengan santai dan mengatakan bahwa meskipun tersinggung tapi mereka membenarkan. Karena produksi utamanya adalah pabrik kata-kata, maka setiap bulannya Joger menghadirkan kata-kata baru minimal satu. Dan Joseph tidak mengalami kesulitan sama sekali dalam mencari kalimat baru.
Baginya ide selalu bermunculan dari mana-mana, tidak perlu berpikir keras karena setiap hal yang dilihat bisa berubah jadi ide. “Malah di Joger saya lebih berani membuat istilah-istilah baru, yang akhirnya diterima,” jelas Joseph. Ketidaklazimannya dalam memasarkan produk pun membuat daya tarik Joger makin kuat, contohnya saja iklan Joger yang berbunyi: “Joger jelek Bali bagus”.

Joseph Theodorus Wuliandi
Selain dari produksi kata-kata lewat kaos, Joger juga menjual ide-ide lainnya dalam bentuk jam yang bergerak mundur dan VCD yang menyuarakan kemerdekaan. “Jam mundur dibuat untuk orang yang berpikiran maju, dan kreasi yang inovatif adalah dasar dari kemerdekaan. Tanpa kemerdekaan tak ada keberanian,” itu penjelasan Joseph mengenai dua produknya tersebut. Joger juga pernah menjual sandal yang mulanya ‘biasa-biasa’ saja namun menjadi tidak biasa karena strategi penjualannya.
Jadi kami hanya menjual sandal kirinya saja, dan jika beli sebelah kiri maka akan dapat bonus sandal sebelah kanan. Harganya pun kami bagi dua, masing-masing 16.500 rupiah,” dan terbukti bahwa sandal Joger laris manis bahkan sampai kewalahan ketika permintaannya meningkat.
Selain tokonya yang ada di Jalan Raya Kuta, Joger sempat membuka toko di Jalan Denpasar juga pada tahun 1983. Namun di tahun 1987, kedua tokonya yang di Jalan Denpasar ditutup walaupun memiliki potensi tinggi. Karena bagi Joseph yang terpenting bukanlah bagaimana jadi konglomerat dan membuat tokonya merajalela dimana-mana melainkan dapat memuaskan konsumen, tetap kreatif, dan konsekuen. Karena sejak tahun 1987 Joger tidak lagi profit oriented, tapi happiness oriented. Karena kalau pengusahanya senang, belum tentu konsumen senang. Tapi kalau konsumen senang sudah pasti pengusahanya senang.
Karena tak ada habisnya ide yang disalurkan Joger melalui produk-produknya membuat Joger menjadi brand kenamaan di Bali. Tokonya selalu penuh antrean, dan barangnya selalu update. Lama-lama, Joger pun menjadi alat promosi pariwisata bagi Bali, karena ke-khas-an dari brand tersebut dan hanya bisa didapatkan di Bali.
Orang-orang yang bertemu dengan Joseph seringkali menanyakan trik dan taktik bisnis apa yang diterapkan hingga Joger tidak pernah mundur, namun Joseph mengatakan bahwa Joger tidak punya taktik khusus. “Kami hanya punya sikap dan komitmen yang kami jalankan secara konsisten dan konsekuen.
D.    ASAL USUL SANGEH
Sangeh sebenarnya adalah saksi sejarah keemasan kerajaan Mengwi di Bali. di tengah sangeh itu ada Pura, namanya Pura Bukit Sari. Konon ni katanya, Pura ini dibuat oleh Anak Agung Anglurah Made Karangasem Sakti putra angkat dari Raja Mengwi saat itu Cokorda Sakti Blambangan pada abad ke-17. konon katanya waktu Anak Agung Anglurah Made Karangasem Sakti melakukan pertapaan, beliau mendapat bisikan untuk membuat Pura di tengah hutan pala ini. nah selanjutnya Pura ini dipakai sebagai tempat sembahyang masyarakat sekitar.
nah nama sangeh itu dari mana?? ini kata masyarakat sekitar ya, sangeh itu sebenarnya berasal dari 2 kata yaitu "sang" itu artinya orang dan "ngeh" artinya liat. konon nih, pohon pala yang ada disana itu sebenarnya bergerak dari gunung Agung trus karena ada orang yang melihat di tempat itu mereka bergerak, akhirnya pohon pala itu diam disana. pasti pada bingung kan? mang bisa kaya gitu?? tapi itu kepercayaan masyarakat sana.



Ditempat ini terdapat kurang lebih 600 ekor kera loh. tapi ini tips buat kalian, kalo kesana jangan sentuh keranya ya. mereka ga mau disentuh. kalo mo kasi makan kasi aja, tapi jangan disentuh. biarin mereka yang sentuh kita jangan kita. Soalnya konon, mereka itu sebenarnya jelmaan dari manusia loh, katanya sih sekelompok prajurit apa gitu gw agak lupa. itulah kenapa kera-kera ini di sakralkan ama masyarakat sekitar sana. merekapun disana hidup layaknya manusia, ada RT/RW gitu. seru ya!!!!
Nah, sekarang disana ada objek baru loh selain kera dan Pura itu. namanya Pohon Lanang Wadon. ini sih gw baru tahu sejak terakhir gw kesana. itu sebuah Pohon gede, katanya udah ada semenjak 300 tahun lalu. kenapa disebut pohon Lanang Wadon, gini Lanang berarti laki-laki dan Wadon berarti Perempuan. jadi, di pangkal bawah pohon tersebut ada bentuk yang menyerupai manusia, tapi memiliki 2 kelamin. ada yang kelamin perempuan dan ada yang laki-laki. beneran loh mirip banget. trus ada pusernya gitu. jadi benar-benar mirip seperti manusia.
sekarang disana tempat parkir DLL udah diatur dengan bangus, jadi ga usah kawatir kenyamanannya, dah bagus banget kok, dibanding dulu waktu gw kesana semasih gw SD. hehehehe. Disana juga ada banyak toko souvenir, bagus-bagus kok tapi yang penting lo semua bisa nawar. gitu aja.
Saat lo pertama masuk, dari parkiran lo beli tiket lah, nah ini dia harganya gw lupa. hehehehe, untuk harga to be continue aja deh ok. baru masuk lo pada akan ngeliat patung Rahwana dikeroyok ama Monyet. ini patuh kalo ga salah ada semenjak 1,5 tahun lalu kayanya. dah lumayan lama sih. kalo lo pada kesana dan bingung pengen tau sejarah DLL disana, lo bakal liat bapak2 yang jualan foto langsung jadi, mereka itu juga guide sana loh. jadi minta tolong mereka lah. ok. mereka bakal nganterin lo muter2 sana sambil nyeritain sejarahnya kaya apa.
 Sangeh ga terlalu jauh kok dari Denpasar, cuma butuh 30 menitan dari Denpasar. deket dengan Mengwi dan Blahkiuh. kalo temen-temen tau jalan ke desa Pelaga, nah sekitar sana. ada tandanya kok. sepanjang jalan dari Mengwi bakal ada petunjuk lalu lintas yang isinya sangeh lewat mana. jadi ga usah kawatir tersesat. yang penting ketemu Mengwi dulu lah gampangnya ketemu Pura taman ayun dulu. nah jalan dari sana sih tinggal lurus terus.




E.     ASAL USUL PANTAI KUTA
Sekitar tahun 1343, Majapahit dengan mahapatihnya yang terkenal, Gajah Mada mengadakan invasi untuk menaklukkan Bali. Untuk melabuhkan perahu-perahu dan pasukannya, Gajah Mada memilih sebuah tempat di selatan pantai Kuta yang sekarang. Karena saking banyaknya perahu yang berlabuh di tempat itu, masyarakat kemudian menyebutnya sebagai pasih perahu. Pasih dalam bahasa Bali berarti ‘laut’ sehingga pasih perahu bisa diartikan sebagai ‘lautan perahu’. Lokasinya terbentang dari Pantai Kuta ke selatan hingga Tuban.
Kedatangan Gajah Mada dan pasukannya itu juga diikuti sejumlah menega (nelayan) dari Samanjaya, sebuah daerah di wilayah kerajaan Majapahit. Lantaran pendaratan yang sukses di tengah gelombang laut yang cukup besar, mereka pun menjadi sering melabuhkan perahunya terutama di tempat pendaratan perahu Gajah Mada yang berupa onggokan batu karang. Batu karang itu kemudian dipelihara secara turun-temurun.
Sebagai wujud syukur, para menega itu pun melakukan pemujaan ke hadapan Yang Maha Kuasa di tempat tersebut. Akhirnya, lama-kelamaan, tempat itu pun menjadi tempat pemujaan. Tak hanya nelayan yang datang memohon keselamatan, juga penduduk sekitarnya. Manakala terjadi bencana, seperti saat adanya wabah yang menyerang seisi desa, mereka datang ke tempat itu untuk mohon keselamatan. Karenanya, tempat pemujaan itu pun diperluas dan disucikan sebagai sebuah pura yang diberi nama Pura Pesanggaran. Pesanggaran secara harfiah bisa diartikan sebagai tempat peristirahatan atau pesinggahan. Hingga kini, pura yang di-emong para nelayan ini masih dilestarikan.
Barangkali didasari maksud untuk menanamkan pengaruh Majapahit di Bali, Gajah Mada kemudian memberikan nama pada pelabuhan kecil tempat pasukannya mendarat sama dengan nama pelabuhan di Jawa yakni Tuban untuk pelabuhan kecil di bagian Selatan dan Canggu untuk di bagian Utara. Pada perkembangan selanjutnya, nama kedua pelabuhan kecil ini menjadi nama desa di kedua tempat itu sampai sekarang. Sementara tempat di antara kedua pelabuhan kecil itu diberinya nama Kuta yang berarti ‘benteng’.
Tatkala Kuta dikuasai kerajaan Mengwi sekitar abad ke-18, daerah ini lebih terkenal dengan sebutan Kuta Mimba. Mimba berarti alas atau hutan. Memang, ketika itu, Kuta masih merupakan daerah hutan yang sangat lebat. Namun, begitu Mengwi dihancurkan oleh kerajaan Badung yang berakibat Kuta juga dikuasai oleh kerajaan ini, tambahan nama Mimba dihilangkan. Selanjutnya daerah ini pun dikenal dengan nama Kuta saja hingga sekarang.
Dahulu, tempat ini merupakan perkampungan nelayan Bali, namun seiring dengan dengan berjalannya waktu, tempat ini menjadi kawasan wisata yang terkenal di Bali. Boleh dikatakan, saat ini Kuta merupakan tempat berkumpulnya wisatawan dari seluruh dunia, karena hampir seluruh wisatawan yang mengunjungi Pulau Bali, pasti tidak lupa pula singgah ke Kuta.
Dalam sejarahnya hampir seluruh pantai di Bali dulunya adalah tempat pendaratan penyu. Seiring dengan perjalanan sang waktu, kini hanya tertinggal beberapa tempat saja yang dikunjungi penyu untuk bertelur, dan salah satunya adalah Pantai Kuta. Kini Pantai Kuta bukan hanya ramai dikunjungi wisatawan namun juga ramai dikunjungi penyu untuk bertelur. Hal ini sangat mengejutkan dengan melihat kondisi Pantai Kuta yang kini telah sesak dengan banyaknya bangunan hotel. Penyu yang mendarat di Pantai Kuta adalah jenis penyu lekang (Lepidochelys olivacea).
Objek Wisata Pantai Kuta Bali ini merupakan objek wisata yang komplit, penggabungan antara wisata sejarah dan Wisata pantai menjadikan objek wisata Pantai Kuta ini termasuk salah satu objek wisata di yang menjadi andalan di Provinsi Bali.





F.     APA PENGERTIAN TARI BARONG
Tari Barong merupakan tarian yang ditarikan oleh dua orang penari laki-laki, seorang memainkan bagian kepala barong serta kaki depan, dan seorang lagi memainkan bagian kaki belakang dan ekor. Barong yang berbentuk binatang mytologi ini banyak sekali macamnya, ada yang kepalanya berbentuk kepala singa, harimau, babi hutan jantan (bangkal), gajah, lembu atau keket. Keket oleh orang Bali dianggap sebagai raja hutan yang disebut pula dengan nama Banaspati Raja.
Tarian ini merupakan peninggalan kebudayaan Pra Hindu yang menggunakan boneka berwujud binatang berkaki empat atau manusia purba yang memiliki kekuatan magis. Diduga kata barong berasal dari kata bahrwang atau diartikan beruang, seekor binatang mythology yang mempunyai kekuatan gaib, dianggap sebagai pelindung. Tetapi di Bali pada kenyataannya Barong tidak hanya di wujudkan dalam binatang berkaki empat akan tetapi ada pula yang berkaki dua. Topeng Barong dibuat dari kayu yang diambil dari tempat-tempat angker seperti kuburan, oleh sebab itu Barong merupakan benda sakral yang sangat disucikan oleh masyarakat Hindu Bali. Pertunjukan tari ini dengan atau tanpa lakon, selalu diawali dengan demonstrasi pertunjukan yang diiringi dengan gamelan yang berbeda-beda seperti gamelan Gong Kebyar, gamelan Babarongan, dan gamelan Batel.
BAB IV
PENUTUP

KESIMPULAN
Dari uraian diatas kami mendapatkan kesimpulan bahwa ;
1.       Pulau bali mempunyai sangat banyak berbagai macam obyek wisata, baik dari wisata alam, belanja,maupun kulinernya.
2.       Di bali juga sangat banyak dikunjungi oleh para wisatawan baik wisatawan dalam negeri maupun luar negeri(Asing).
3.      Adat di bali masih sangat murni dan belum tercampuri kebudayaan asing walaupun banyak wisatawan asing yang datang ke bali.
4.       Selain itu masyarakat dibali masih sangat menghormati leluhur mereka, bahkan mereka setiap hari selalu menyajikan sesaji disetiap tempat yang mereka anggap suci.

SARAN
1.      Semoga karya tulis ini dapat dijadikan sebagai acuan pembelajaran untuk membantu memahami apa yang ada di pulai bali.
2.      Penulisan ini dapat digunakan sebagai latihan awal pembuatan karya tulis, semoga karya tulis ini dapat menambah wawasan lebih bagi penulis
3.      Jagalah kekayaan alam kita,agar anak cucu kita dapat melihat kekayaan negeri kita

DAFTAR PUSTAKA

Astuti, indarti yuni. 2008. Ensiklopedi Sastrawan Indonesia Jilid 2. Jakarta: Permata Equator   
                             Media.
Jabrohim, Chairul Anwar, dan Suminto A. Sayuti. 2003. Cara Menulis Kreatif. Yogyakarta:
                           Pustaka Pelajar.
Sulastri dan Margareta Suharti. 2008. BSE Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas XI SMA/MA.                                                                                                                                                                                                                                                
                         Jakarta : Depdiknas.
Anorere, 2006. Tanah Lot.Dinas Pariwisata Provinsi Bali : Bali
Danandjaya, James, 1992. Cerita Rakyat dari Bali. Jakarta : PT. Grasindo










LAMPIRAN